Foto (sebagian) Keluarga
Posted on April 13, 2008
Filed Under Family | 2 Comments
Duuh… sudah lama sekali sepertinya saya tidak update blog ini. Kalo tidak salah sejak dua bulan persiapan kelahiran putra kedua kami. Jelas yang melahirkan bukan saya, namun sebagai bapaknya, tentu saya ikutan wara-wiri ini itu dan sebagainya. You know lah kalo udah jadi bapak!. Hahaha… Saat ini Rama (anak kedua kam) sudah berusia enam bulan, jadi bisa dihitung, kira-kira sekitar delapan bulan lebih tidak update blog ini. Meskipun demikian, saya tetap menulis kok, namun dipublish dalam bentuk berbeda.
Sepertinya saat ini merupakan saat-saat yang tepat untuk kembali aktif dalam menulis melalui media blog kembali. Foto-foto ini saya buat secara sederhana, hanya di teras rumah menggunakan kamera poket pula. Jadi harap maklum jika hasilnya pas-pasan. Namun saya puas, karena masih bisa mengabadikan moment yang tidak akan terulang kapanpun juga! Ya, jelas, mana ada tanggal 13 April 2008 jam 10 an pagi, terulang kembali…
Beberapa hasilnya kami kirim untuk memenuhi salah satu syarat sebagai peserta lomba Mom FunTastic & Kid. Menariknya kegiatan tersebut, karena kami sering kali berpose bersama sekeluarga. Itung-itung supaya terkenal… Hahaha…
Selamat Tahun Baru 2008
Posted on January 1, 2008
Filed Under Family | 3 Comments

Semangat baru untuk terus nge-blog di sela-sela kesibukan sebagai seorang bapak, suami, karyawan, anggota organisasi ini itu, Individu bebas, hobiis, anak, menantu, saudara dan sebagainya.
Fiuuhh…!
Targetnya gak muluk-muluk, 1 kali posting tiap minggu. Total paling tidak ada 52 posting baru selama tahun 2008. Saya optimis!
Selembar Dua Puluh Ribu Rupiah
Posted on November 25, 2007
Filed Under Family | 4 Comments
Selembar dua puluh ribu terlipat kecil hampir terlindas ban depan Vario biruku. Lokasi parkir sebuah swalayan di Semarang, ketika kami hendak beranjak keluar selesai berbelanja. Selembar dua puluh ribu terlipat kecil aku ambil. Tidak ada orang disekitar yang patut disangka sebagai pemilik uang tersebut.
Saran istriku, uang itu diberikan saja kepada pengemis. Aku sepakat, mengingat uang tersebut bukan milik kami dan aku pikir pasti ada orang yang lebih membutuhkan. Bagaimana dengan orang yang kehilangan? Semoga ia menikhlaskan ketika menyadari selembar dua puluh ribu terlipat kecilnya hilang tercecer.
Kami memutuskan untuk memecah uang tersebut, agar lebih banyak orang dapat menerima. Selembar sepuluh ribu dan dua lembar lima ribu rupiah. Tantangan selanjutnya adalah, mencari orang yang tepat untuk menerimanya dalam perjalanan pulang. Dalam benakku orang-orang tersebut adalah, pengemis di lampu merah, tukang sapu jalanan, pemulung dan sejenisnya. Mudahkah dalam lima kilometer perjalanan pulang kami menemui orang-orang tersebut?
Selembar sepuluh ribu rupiah berpindah tangan ke seorang bapak tua berpakaian lusuh yang sedang duduk emper toko di belakang dua buah karung plastik dan onggokan barang-barang lainnya, cuma lima puluh meter dari swalayan. Satu lembar lima ribu rupiah menjadi rejeki lelaki pemulung tidak jauh setelahnya.
Kami tidak melalui jalan protokol sampai keluar di Jalan Pahlawan, tepat di depan pintu keluar Telkom, selembar uang lima ribu terakhir menjadi rejeki lelaki pemulung. Jarak masih sekitar satu kilometer sebelum sampai di rumah, kami masih menemui beberapa orang yang sesuai kriteria. Sayangnya tugas kami untuk menyampaikan selembar dua puluh ribu terlipat kecil telah selesai. Mencari pengemis, pemulung dan sejenisnya menyadarkan saya, bahwa ternyata banyak orang miskin dan mudah ditemui disekitar saya. Inikah tanda bahwa bangsa ini masih miskin?
— keep looking »