Selembar Dua Puluh Ribu Rupiah
Posted on November 25, 2007
Filed Under Family |
Selembar dua puluh ribu terlipat kecil hampir terlindas ban depan Vario biruku. Lokasi parkir sebuah swalayan di Semarang, ketika kami hendak beranjak keluar selesai berbelanja. Selembar dua puluh ribu terlipat kecil aku ambil. Tidak ada orang disekitar yang patut disangka sebagai pemilik uang tersebut.
Saran istriku, uang itu diberikan saja kepada pengemis. Aku sepakat, mengingat uang tersebut bukan milik kami dan aku pikir pasti ada orang yang lebih membutuhkan. Bagaimana dengan orang yang kehilangan? Semoga ia menikhlaskan ketika menyadari selembar dua puluh ribu terlipat kecilnya hilang tercecer.
Kami memutuskan untuk memecah uang tersebut, agar lebih banyak orang dapat menerima. Selembar sepuluh ribu dan dua lembar lima ribu rupiah. Tantangan selanjutnya adalah, mencari orang yang tepat untuk menerimanya dalam perjalanan pulang. Dalam benakku orang-orang tersebut adalah, pengemis di lampu merah, tukang sapu jalanan, pemulung dan sejenisnya. Mudahkah dalam lima kilometer perjalanan pulang kami menemui orang-orang tersebut?
Selembar sepuluh ribu rupiah berpindah tangan ke seorang bapak tua berpakaian lusuh yang sedang duduk emper toko di belakang dua buah karung plastik dan onggokan barang-barang lainnya, cuma lima puluh meter dari swalayan. Satu lembar lima ribu rupiah menjadi rejeki lelaki pemulung tidak jauh setelahnya.
Kami tidak melalui jalan protokol sampai keluar di Jalan Pahlawan, tepat di depan pintu keluar Telkom, selembar uang lima ribu terakhir menjadi rejeki lelaki pemulung. Jarak masih sekitar satu kilometer sebelum sampai di rumah, kami masih menemui beberapa orang yang sesuai kriteria. Sayangnya tugas kami untuk menyampaikan selembar dua puluh ribu terlipat kecil telah selesai. Mencari pengemis, pemulung dan sejenisnya menyadarkan saya, bahwa ternyata banyak orang miskin dan mudah ditemui disekitar saya. Inikah tanda bahwa bangsa ini masih miskin?
Comments
4 Responses to “Selembar Dua Puluh Ribu Rupiah”
Leave a Reply
atau tanda semarang sudah menjadi kota metropolitan (dengan org mskin didalamnya juga
)
hiks…terharu om.tp ngomong2 dah ujian CCNA lom?
Indonesia bisa jadi negara kaya (penduduknya) jika jurang kemiskinan nggak terlalu ekstrim. Mungkin dengan zakat (derma) dan pendidikan SDM yang cukup sangat berarti bagi pengentasan kemiskinan.
Ah, lagi-lagi berkhayal…
hidup mas cor..mas cor hidup..!!!heheheh