SSL versus TLS Apa yang Membedakannya?

Singkatnya, SSL usang dan TLS adalah nama baru dari protokol SSL lama sebagai standar encryption modern yang digunakan oleh semua orang. Secara teknikal, TLS lebih tepatnya, tetapi orang lebih tahu SSL.

SSL merujuk ke Secure Socket Layer sedangkan TLS merujuk ke Tranport Layer Security. Pada dasarnya mereka adalah satu dan sama tetapi secara keseluruhan berbeda. Jangan bingung.

Keduanya baik SSL dan TLS secara umum merupakan cryptographic protocols yang melakukan authenticate data yang ditransfer melalui jalur komunikasi antara server, systems, aplikasi dan users. Sebagai contoh, cryptographic protocols melakukan encrypts data yang dipertukarkan antara web server dan user/client. SSL merupakan jenis crypthographyic protocol pertama dan TLS merupakan versi upgrade terkini dari SSL.

Pertama kali SSL dikembangkan tahun 1994 oleh Netscape. SSL dibayangkan sebagai sistem yang memastikan komunikasi aman browser (client) dan server system di web. SSL terdapat versi 1.0, 2.0 dan terakhir 3.0. Cryptographic protocol selanjutnya adalah TLS 1.0 yang rilis tahun 1999. Versi terakhir TLS 1.3 rilis Agustus 2018.

Diagram di bawah ini menggambarkan proses SSL/TLS handshake sampai kedua ujungnya berkomunikasi menggunakan share secret encryption yang sama.

SSL - TLS Handshake
SSL – TLS Handshake

Sebetulnya, perbedaan antara SSL dan TLS bersifat minor. Faktanya hanya orang teknikal yang melihat perbedaanya, termasuk:

  • Cipher suites
  • Alert messages
  • Record Protocol
  • Handshake process
  • Message Authentication

Keterangan lebih lengkap masing-masing point dapat dilihat di https://ssl2buy.com/wiki/ssl-vs-tls.

Salah satu point di slide presentasi pelatihan Archictecting on AWS, modul ke-6 Networking on AWS Part 2 (dari 2 bagian), menerangkan tentang TLS termination, kaitannya dengan ELB, Elastic Load Balancing. Selanjutnya, pertanyaan iseng yang timbul adalah, apakah TLS termination? Jika hal tersebut dapat terjawab, maka akan mengantar kita pada pertanyaan selanjutnya, apa peran dan kaitan TLS termination dengan Elastic Load Balancing? Pertanyaan lain dapat meluncur, misalnya, apakah TLS termination berlaku untuk Application Load Balancer, Network Load Balancer atau Classic Load Balancer?

Continue reading “SSL versus TLS Apa yang Membedakannya?”

Bangkitnya Pembeli Mobile

Pembelian melalui mobile phone
Pembelian melalui mobile phone

Smartphone telah mengubah cara kita melakukan penelitian dan pembelian, memberikan pengiklan cara baru untuk menjangkau konsumen di saat-saat yang penting.

Smartphone menjadi perangkat yang ada di mana-mana. Singapura dengan jumlah penduduk 24 juta jiwa, 72% memiliki smartphone dimana 76% nya melalukan riset/meneliti, penelitian kecil-kecilan, membaca blog, membaca review produk, membaca informasi di sosial media, sebelum membeli barang via smartphone. Konsumen menggunakan smartphone mereka untuk riset dimana saja. Mereka melakukan 55% di rumah, 45% diperjalanan, 23% di toko, dan 36% di dalam kendaraan umum.

Gaya riset konsumen ini mempengaruhi pembelian yang dilakukan pada smartphone dan tempat lainnya. Sebagai contoh, setelah meneliti produk travel pada smartphone, 13% melalukan pembelian melalui mobile phone dan 87% melakukan pembelian melalui desktop, tablet atau secara offline.

10 Best Practices untuk Mobile Website

Mengakses website menggunakan smartphone dengan kemampuan browser full HTML saat ini merupakan hal yang biasa dilakukan. Coba perhatikan Google Analytics Anda. Berapa banyak visitor pengakses website dengan menggunakan smartphone mereka? Banyak atau cukup banyak? Saatnya Anda menyediakan website versi mobile untuk menemani website versi desktop Anda.

gambar perangkat mobile mengakses mobile website
Contoh website yang menyediakan laman khusus untuk diakses melalui perangkat mobile

Terdapat sepuluh saran terbaik bagaimana membuat website versi mobile, yang saya dapat dari Google Partners. Silahkan disimak, semoga dapat membantu Anda dalam memutuskan membuat website versi mobile yang baik.

  • Be thumb friendly. Design website memudahkan interaksi bahkan dengan jemari yang besar.
  • Design for visibility. Usahakan content website mobile mudah untuk dibaca pada jarak normal telapak tangan ke mata.
  • Simplify navigation. Navigasi yang jelas, hirarki yang tepat dan lama bentuk scrolling vertikal.
  • Make it accessible. Idealnya website versi mobile dapat diakses dari semua perangkat mobile dan dapat tampil dalam berbagai orientasi.
  • Make it easy to convert. Fokus pada informasi yang dapat membantu conversion.
  • Make it local. Sertakan fungsionalitas, agar orang mudah menemukan dan mencapai tempat Anda.
  • User mobile website redirection. Mudahkan pengguna untuk berpindah antara website versi mobile dan versi desktop, begitu juga sebaliknya.
  • Keep it quick. Bangun website versi mobile dalam bentuk yang cepat loading dan memudahkan scanning content oleh pengguna.
  • Make it seamless. Sertakan sebanyak mungkin fungsionalitas website versi desktop dalam website versi mobile.
  • Learn, listen and iterate. Website versi mobile sebaiknya dibangun atas user-centric dan dapat menerima masukkan dari pengunjungnya.